Notification

×

Iklan

Iklan

Pendiri Tiong Hoa Hwee Koan dan Pendana ITB

Kamis, 25 November 2021 | Kamis, November 25, 2021 WIB Last Updated 2021-11-24T23:16:18Z



PHOA KENG HEK, 潘景赫 (1857-1937)

Phoa lahir di Buitenzorg (sekarang Bogor), Hindia Belanda (sekarang  Indonesia), pada tahun 1857 dari ayah  Tionghoa berpengaruh  bernama Phoa Tjeng Tjoan Kapitein der Cineezen Buitenzorg 1866-1878 . Pendidikan formal pertama Phoa adalah di sekolah yang dijalankan etnis  Tionghoa, tetapi setelah Sierk Coolsma membuka sekolah misionaris di  Bogor pada 31 Mei 1869, Phoa masuk kelas pertama dari sepuluh kelas. Di  antara teman-temannya adalah Lie Kim Hok yang kelak dikenal sebagai  penulis. Di sekolah ini, Phoa juga belajar bahasa Belanda. Meski sekolah  ini bertujuan membuat orang-orang memeluk Kristen, Phoa bertahan  menganut Konfusianisme.

Setelah lulus, Phoa menikahi putri seorang letnan Cina di Batavia  (sekarang Jakarta), ibukota Hindia Belanda, dan ia pindah ke sana  bersama istrinya. Keduanya dikaruniai seorang putri, Tji Nio, yang kelak  menikah dengan Khouw Kim An, mayor Cina terakhir Batavia. Phoa terkenal  sangat blak-blakan dan segera dipandang sebagai pemimpin etnis Tionghoa  di Batavia. Karena menguasai bahasa Belanda yang dipakai pasukan  kolonial, Phoa dapat mudah berinteraksi di luar komunitas Tionghoa dan  kaum Bumiputera.

Pada tahun 1900, Phoa, bersama teman lamanya Lie, menjadi anggota  pendiri sistem sekolah dan organisasi Tiong Hoa Hwe Koan (THHK).  Sekolah-sekolah yang dikelola THHK mewakili sistem pendidikan modern  pertama di Hindia Belanda. Ia menjabat sebagai presiden THHK selama 23  tahun sebelum pensiun, mempromosikan hak-hak etnis Tionghoa dan  pemakaian bahasa Cina dan Inggris di kalangan masyarakat Tionghoa.

Tahun 1907, Phoa–dengan pseudonim "Hoa Djien" ("Seorang Cina")–mengirim  serangkaian surat kepada editor harian Perniagaan yang isinya  mengkritisi pemerintah kolonial Belanda dan kebijakan-kebijakannya  terhadap etnis Tionghoa. Ia menulis bahwa Hindia Belanda menawarkan  sedikit kesempatan bagi etnis Tionghoa yang harus menjelajahi dunia. Ia  menulis, "Jika mereka melek bahasa Cina dan Inggris, mereka bisa pergi  selama dua atau tiga hari (Jawa-Singapura) ke dunia yang lebih luas  tempat mereka bisa bergerak bebas."

Di luar THHK, Phoa adalah tuan tanah yang aktif. Ia membeli tanah di  Bekasi, sebelah tenggara Batavia, dan pada tahun 1903 berhasil melarang  perjudian di daerah itu. Seperti ayahnya, Phoa menjual hasil tani. Ia  memiliki sebuah lumbung padi dan pabrik teh.

Bersama dua orang Tionghoa lainnya--Nio Hoey Oen dan Kian Hok Hoei--Phoa  menjadi anggota dari sebuah Komite Keuangan beranggotakan 13 pejabat  bentukan pemerintah Hindia Belanda pada 1914, yang bertugas menggalang  dana untuk mendirikan sekolah tinggi teknik pertama di Hindia Belanda,  Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang merupakan cikal-bakal Institut  Teknologi Bandung (ITB).

Phoa dianugerahi Knight in the Order of Orange-Nassau pada tahun 1937.  Ia meninggal dunia di Batavia pada 19 Juli 1937 dan dimakamkan dengan  prosesi megah di TPU Petamburan pada 25 Juli.


 

×
Berita Terbaru Update